Wajah Street Food Indonesia

Posted by Sofi 5.07.2013 2 comments
Sebut saja Monika dan Anto, sepasang suami istri yang hidup di Jakarta. Suatu malam, Anto mengajak istrinya keluar.
‘Dinner, yuk!’
2 kata ini langsung direspon Monika dengan cepat. Tanpa bertanya lebih lanjut, Monika bergegas mengganti bajunya dengan sebuah gaun malam berpotongan sederhana. Kelezatan makanan yang dipadu dengan suasana mewah nan romantis di restoran melela dalam bayangannya. Slurp!
Setelah beberapa hari ini mereka melewati makan malam a la warung kaki lima, akhirnya kesempatan menikmati makan malam lebih mewah datang lagi. Yuhuuu… begitu selesei menambahkan riasan di wajahnya, Monika bergegas menemui suaminya yang sedang nonton TV.

Melihat dandanan istrinya, Anto tertegun.
Ha? Kok bajunya yang itu?” Belum sempat Anto menyeleseikan kalimatnya, Monika langsung memotong.
“Dinner, kan?”
“Ya udah. Ayo. Keburu hujan, ntar”. Jawabnya.
Tanpa banyak bicara, langsung diambil motor sportnya dan mereka berboncengan membelah ramainya kota Jakarta. Tidak berjalan lama, tiba-tiba Anto menghentikan sepedanya di sebuah warung di pinggir jalan Monika mengira suaminya mau membeli rokok di kios samping warung itu. Apalagi rencana mereka ke restoran.
“Turun” Perintah suaminya halus.
Monika turun, tapi mematung.
“Ayoo…” Ajak suaminya
“Lho?“Gantian Monika yang bertanya. Mau beli rokok saja harus ajak dia. Belum memperoleh jawaban, matanya sudah menangkap langkah kaki Anto menuju beberapa bangku panjang yang baru terisi setengahnya. Terlihat seorang bapak sedang mengaduk makanan di wajannya diatas kompor yang menyala. Nasi goreng…
Katanya ngajak dinner” Monika mencoba mengingatkan. Siapa tahu suaminya lupa tujuan mereka.
“Dinner itu makan malam, kan?. Kita dinner disini saja”
Dikiranya Anto mau ngajak dinner di restoran, ternyata…
Aaaahh… Salah persepsi.

***
Beda Persepsi Beda Reaksi
Monika mengira mereka akan makan di restoran, Ternyata Anto mengajaknya ke warung pinggir jalan. Mereka memiliki persepsi berbeda. Dinner bagi Anto ya makan malam seperti biasa. Tidak ada yang lebih istimewa. Bagi Monika lain lagi. Kalau makan malam bisa dimana saja. Tapi ketika menyebut kata dinner, asosiasinya ya ke restoran. Kalau mau pergi kesana, penampilan harus diperhatikan termasuk dalam urusan make-up dan baju yang tertata.

Seandainya dia paham akan diajak makan di street food, bisa jadi reaksinya lain. Cukuplah dengan pakaian rumah yang dikenakan ditutup dengan sweater. Jadi deh.
Bukankah makan di warung pinggir jalan identik dengan dandanan casual?. Dari sini terlihat antara restoran dan street food memiliki ‘kelas’ yang berbeda.

Penjual street food sampai saat ini tidak menuntut pengunjungnya untuk tampil rapi jali jika ingin makan di tempatnya. Street food tidak hanya menawarkan kelezatan makanan, namun juga menjadi media bagi pengunjungnya untuk tampil apa adanya. Tidak ada make up menor. Pun juga tidak ada tuxedo.

Meski begitu, kelihaiannya memanjakan lidah pengunjungnya tidak perlu diragukan lagi. Banyak penjual street food yang kualitas rasanya setara dengan masakan a la chef bintang lima.

Street Food, Apakah Itu?
Secara umum, street food diartikan sebagai makanan dan minuman yang dijual di pinggir jalan atau di titik-titik keramaian lainnya. Orang Indonesia menyebutnya dengan Warung Pinggir Jalan, PKL, atau makanan jajanan.


Sumber: http://lekgunsketchbook.blogspot.com

Pada dasarnya, berdasarkan keterangan dari Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi street food ini dapat digolongkan menjadi tiga:
1. Makanan Jajanan Berbentuk Panganan. Contohnya kue molen dan martabak.



2. Makanan Jajanan yang diporsikan, seperti nasi goreng dan bakso.



3. Makanan jajanan berbentuk minuman seperti es cendol dan es campur.



Selain membedakan street food dari jenis makanan yang dijual, street food juga dibedakan dari mobilitasnya, yakni: Penjaja diam yang ngendon atau menetap tempat jualannya, penjaja ½ diam yang terkadang keliling terkadang mangkal di suatu tempat serta penjaja yang tidak bisa diam alias penjaja keliling.
Budaya masyarakat yang semakin menggemari turun ke jalan untuk menikmati makanan yang dipicu oleh daya tarik dari pedagang kaki lima itu sendiri serta peran media yang menyemarakkan geliat wisata kuliner nusantara ini menyebabkan jumlah pedagang kaki lima semakin bertambah. Pakar kuliner Bondan Winarno mengatakan bahwa saat ini ada sekitar 85 persen makanan di dunia ini yang tersaji di jalanan. Tidak heran jika kemudian muncul angka ini. Karena, saat ini, begitu kita keluar rumah akan disambut oleh berbagai penjaja makanan ini dengan segala veriasi menu yang ditawarkannya.

Street Food dan Kekayaan Budaya
Kekayaan budaya yang bisa dilihat dari street food nya antara lain:
1. Beda daerah Beda Selera
Betapa keragaman selera masing-masing daerah bisa dilihat salah satunya melalui street food. Contohnya sambal, menu sejuta umat yang banyak menemani menu lalapan. Beda daerah akan berbeda rasanya. Ada daerah yang rasa sambalnya pedas asin. Ada juga daerah yang rasa sambalnya cenderung manis.
Contoh lain adalah pecel dan karedok. Komposisi bahan keduanya hampir sama tapi ada perbedaannya juga. Selain itu karedok identik dengan Jawa Barat, sedangkan pecel identik sebagai menu khas Jawa Timur.

2. Masyarakat Yang Kreatif dan Humoris
Jika warung bakso lain menyebut dirinya ‘Bakso Enak’ ‘Bakso Lezat’ dan sebaginya, di sebuah warung bakso di Jember Jawa Timur justru menamakannya dengan ‘Bakso Ora Pati Enak’. Artinya Bakso Yang Tidak Begitu Enak. Low profile sekali, bukan?. Alih-alih sepi pengunjung, justru dengan promosi yang rendah hati ini mampu menarik pengunjung untuk terus berdatangan. Strategi marketing yang melawan arus sedang diterapkan. Kreatif sekali.

Ada lagi contoh betapa kreatif dan lucunya PKL di Indonesia. Di Surabaya ada warung yang nama makanannya unik dan bisa membuat kita mengernyitkan dahi. Ada Krisdayanti (sate usus ayam yang digoreng), Mbok Enom artinya istri muda untuk menyebut es sinom, Sembako (nasi bungkus), Aspal (sambal), Bantal (lumpia), Guling (risoles), Pakan Doro (Pakan burung alias bakwan jagung) dan lain sebagainya. Makannya bisa pakai sekrop (sendok) atau tangan di lapangan (piring). Ada kolam renang (air di wadah) yang disediakan untuk cuci tangan.
Kebetulan saya belum pernah ke warung yang katanya laris manis itu. Mungkin jika saya kesana, hanya bisa tersenyum atau justru melongo mendengar berbagai istilah lucu yang disebutkan bersahutan itu.

3. Semangat Gotong Royong
Orang Indonesia itu semangat gotong royongnya tinggi. Banyak penjual street food yang memanfaatkan emperan toko untuk berjualan. Dari sini saja kita bisa melihat adanya semangat untuk berbagi ladang rizki antara pemilik toko dan penjual street food.

Selain mampu menampilkan sisi positif wajah Indonesia, keberadaan street food juga mampu menyingkap sisi buruknya. Contohnya terkait kebersihan. Bondan Winarno pernah mengatakan kalau perut kita sudah terbiasa jorok, jadi makan apa saja tidak sakit.
Pernyataan ini muncul karena melihat banyak pemandangan pedagang kaki lima di Indonesia yang kurang menjaga aspek kebersihan dalam berjualan.

Sambil menulis esai ini, saya menyempatkan diri jalan-jalan ke berbagai negara untuk melihat wajah street food nya. Beda negara beda pula penampakan street food nya. Tentu saja saya jalan-jalan dengan identitas sebagai cyber traveler. Begitu melihat penampakan street food di beberapa negara yang terkesan jorok, selera untuk pergi kesana jadi berkurang meskipun seandainya kesempatan dan kemampuan itu datang.

Ini pula yang mungkin terjadi pada calon wisatawan yang bisa jadi minatnya berkunjung ke Indonesia menjadi berkurang karena melihat wajah street food nya yang kurang terjaga kebersihannya.

Di Singapura, setiap vendor street food mengantongi sertifikat kebersihan terkait makanan yang disajikan dengan grade yang berbeda-beda. Dengan sertifikat ini, para vendor akan berusaha memberikan pelayanan terbaiknya dan konsumen pun nyaman menikmati makanannya.

Salah satu pe-er pemerintah adalah bagaimana caranya memoles keberadaan street food agar bisa tampil bersih. Cara yang diterapkan Singapura bisa dicontoh. Sebagai salah satu daya tarik wisata, street food harus dipoles sedemikian rupa agar banyak wisatawan yang beranjangsana.
Karena bagaimanapun, salah satu mantra PDKT: ‘Jalan menuju hati orang asing adalah melalui perutnya’ masih diakui keampuhannya.


Baca Selengkapnya ....

Al-Gore, Bumi dan Daihatsu

Posted by Sofi 5.05.2013 0 comments
Ketika melawan George W. Bush pada pemilu 2000, Al-Gore memang kalah. Tapi namanya akan tetap dikenang sejarah sebagai salah satu pejuang lingkungan hidup. Sampai batas waktu tidak tertentu, film An Inconvenient Truth akan tetap bisa dinikmati. Sebuah film dokumenter tentang bencana yang akan terjadi jika aktifitas perusakan lingkungan terus terjadi.

Berbagai pengakuan atas dedikasinya menyelamatkan lingkungan telah diakui dunia. Meraih penghargaan Academy Award 2007 sebagai film dokumenter terbaik serta menjadi peraih nobel adalah jejak apresiasi dunia atas bukti kecintaannya kepada bumi.

Demi bumi, semuanya harus bergerak melakukan perbaikan. Dimulai dari diri sendiri. Masyarakat harus bergerak. Pemerintah harus bergerak. Para pelaku industri juga harus bergerak

Meskpun (mungkin) langkah perubahan yang dilakukan kelihatan kecil, tapi jika dikerjakan dengan spirit cinta kepada bumi, maka hasilnya juga akan luar biasa. Bunda Theresa pun pernah mengatakan: "We cannot do great things on this earth, only small things with great love."

Sebuah Janji Untuk Dunia
Pada thaun 1997 lalu, kita pernah berjanji untuk bersama-sama mengurangi emisi karbondioksida dan 5 gas rumah kaca lainnya. Janji itu tertuang dalam Protokol Kyoto. Jepang adalah salah satu negara yang konsisten memegang janji itu dan melakukan berbagai perubahan untuk lingkungan yang lebih baik. Daihatsu adalah salah satu produsen moda transportasi asal Negeri Matahari Terbit yang mengusung konsep teknologi hijau.

Daihatsu dan Pemenuhan Janji Itu
Salah satu komitmen Daihatsu untuk memproduksi mobil dengan teknologi hijau yang notabene ramah lingkungan di buktikan dengan memproduksi compact car. Mengapa compact car dikatakan ramah lingkungan. Paling tidak ada 3 alasannya:

1. Mobil hemat bahan bakar mampu mengurangi emisi CO2. Selama ini CO2 adalah salah satu faktor yang bertanggungjawab terhadap adanya pemanasan global. Contoh mobil yang hemat bahan bakar adalah mobil hybrid.

Tapi tunggu dulu…

Mobil hybrid memang hemat bahan bakar. Tapi hemat bakar bakar saja tidak mampu mewujudkan mobil yang ramah lingkungan. Ada faktor lain yang harus diperhatikan, yakni ukuran mobil. Dalam compact car, bahan untuk pembuatannya memakai alumunium, bukan baja sehingga berat compact car kebih ringan dibanding mobil hybrid. Itu artinya penggunaan bahan bakar pada compact car rendah sehingga bisa mengurangi emisi CO2.

2. Penggunaan logam mulia yang lebih sedikit.
Mobil hybrid dibuat dari berbagai material seperti neodymium dan didymium untuk membentuk bodi nya. Sedangkan kacanya yang bisa menyerap sinar UV terbuat dari cerium. Kita tahu bahwa ketiga material ini merupakan contoh material yang cukup langka.
Semakin besar kendaraan, semakin banyak penggunaan energi dan sumberdaya langka berupa logam mulia. Semakin ramping dan sederhana sebuah kendaraan, kuantitas dari penggunaan material ini juga semakin sedikit. Keberadaan compact car merupakan wujud penghematan terhadap berbagai bahan baku yang langka yang bersifat tidak dapat diperbarui. Inilah ilustrasi penggunaan material yang langka jumlahnya tapi boros penggunannya.



3. Diterapkannya Life Cycle Assessment (LCA) yang pro lingkungan.
Daihatsu menerapkan keseluruhan proses mulai dari hulu sampai hilir harus benar-benar ramah lingkungan. Proses mulai dari pembelian bahan baku (Purchasing of materials), proses pembuatan (production) yang menggunakan metode produksi yang benar-benar efisien sehingga bisa mengurangi penggunaan material yang tidak penting, kemudian tahapan pengoperasionalan atau driving, perawatan hingga tahapan daur ulang (scrapping) benar-benar diperhatikan.



Komitemen Daihatsu untuk menciptakan kendaraan yang ramah lingkungan dapat dilihat dari 4 pendekatan berikut:
1. Mobil yang ramah lingkungan dibuat dari tempat yang juga ramah lingkungan. Ini adalah rumus yang dipegang betul oleh Daihatsu. Semua fasilitas produksi yang digunakan mengacu kepada mindset ramah lingkungan. Cara yang ditempuh adalah dengan membangun tempat produksi seramping mungkin. Tujuannya untuk memperkecil peluang merusak lingkungan selama proses produksi.
Selanjutnya dengan menggunakan pendekatan SSC (Simple, Slim and Compact) yang tujuannya untuk menghilangkan penggunaan peralatan dan bahan baku yang tidak perlu. Dengan cara ini, jumlah engergi yang digunakan dan emisi karbon yang dikeluarkan bisa berkurang. Gambar berikut adalah contoh penggunaan konsep SSC pada pabrik Daihatsu di Kyusu Jepang yang selesei dibangun pada tahun 2007.



2. Secara konstan mengurangi berat dan ukuran produk.
Semakin berat sebuah mobil, bahan bakar yang dibutuhkan juga semakin besar. Sedangkan compact car lebih ringan sehingga bahan bakar yang dibutuhkan juga semakin sedikit.
Contohnya adalah kendaraan buatan Daihatsu bernama Mira e:S yang merupakan generasi ketiga mobil ramah lingkungan. Berat mobil ini 60 kg lebih ringan dari ukuran semula. Dengan tetap memperhatikan faktor keamanan, kendaraan ini dibuat dengan berat sekitar 730 kg dan tentu saja dengan perancangan yang hemat bahan bakar.



3. Eco-Idle System dan i-EGR System
Daihatsu paham bahwa kita sampai saat ini masih berjibaku dengan masalah macet. Kalau sudah macet tidak mengenal jam. Oleh karena itu, agar penggunaan bahan bakar tetap efisien dalam kondisi ‘idle’ dibuatlah Eco-Idle system.
Dalam kondisi tertentu bisa mati atau hidup secara otomatis. Dengan adanya teknologi ini tidak ada bahan bakar yang terbuang sia-sia. Jika kecepatannya dibawah 7km/jam atau dalam kondisi ‘hidup segan mati tak mau’ alias lambaaatt banget, maka mesin akan secara otomatis mati. Meski mesin mati, tapi audio dan sistem navigasinya tetap bisa digunakan. Ketika mobil sudah benar-benar berhenti, mesin tetap berhenti.
Asyiknya, berapa lama mobil berhenti dan berapa banyak bahan bakar yang dismpan dalam kondisi mesin mati bisa dilihat di penunjuk meterannya. Nah, ketika rem sudah dilepas, otomatis mesin akan mulai hidup. Semua perpindahan kondisi dari hidup-mati-hidup lagi terjadi dalam kondisi yang smooth.


Selain menggunakan Eco-Idle System, juga menggunakan i-EGR system. Fungsinya untuk membuat proses pembakaran terjadi secara sempurna sehingga emisi CO2 nya rendah.

4. Big Possibilities.
Daihatsu sadar bahwa kendaraan yang ramah lingkungan pasti membutuhkan mesin yang ramah lingkungan juga. Mobil yang ideal untuk memenuhi kebutuhan ramah lingkungan adalah yang hemat bahan bakar, bertenaga, suaranya halus dan padat (compact). Compact car dirancang dengan ‘hanya’ menggunakan dua silinder. Jumlah ini lebih efisien dalam penggunaan bahan bakar jika dibandingkan menggunakan tiga silinder yang banyak digunakan oleh non-compact car.
Pengembangan untuk menghasilkan mobil dengan kualitas lebih baik akan terus dilakukan oleh Daihatsu. Karena menghadirkan kendaraan yang ramah lingkungan ke seluruh penjuru dunia adalah cita-citanya. Melakukan sesuatu yang berarti untuk bumi adalah semangatnya. Inilah cara Daihatsu memenuhi janjinya untuk menyelamatkan bumi. Karena bagaimanapun, pedoman “jangan ada dusta diantara kita” memang harus tetap dijaga.

P.S: Semua gambar didapatkan dari: http://www.daihatsu.com


Baca Selengkapnya ....

Happy 1st Monthsary Bell’s Palsy

Posted by Sofi 3.14.2013 6 comments
Hari ini, 14 Februari, sepertinya perlu mengucapkan “Happy 1st Monthsary” buat Bell’s Palsy yang sudah menemani saya sebulan lamanya :).
Menurut perkiraan dokter, bell’s palsy saya akan sembuh dalam waktu 1 bulan. Perkiraan beliau tidak meleset jauh. Saya sudah sembuh meski belum 100 persen. Sekitar di kisaran angka 90 persen an lah. Kurang sedikit lagi.

Bagaimana ceritanya?
Malam itu, sebulan yang lalu, saya merasa ada yang aneh dengan wajah saya. Dalam melakukan gerakan, antara wajah sisi kanan dan kiri tidak sinkron lagi. Tidak ada kekompakan diantara mereka untuk melakukan gerakan yang indah buat dipandang, misalnya tersenyum atau berkedip-kedip. Yang terjadi, jika diminta tersenyum, yang mau menyunggingkan senyum hanya bibir sebelah kiri. Bibir bagian kanan ngambek. Begitu pula dengan mata. Kalau diminta berkedip, yang merespon hanya mata kiri saja. Mata yang kanan benar-benar tidak mau melaksanakan perintah. Bahkan saking ngambeknya, mata kanan saya tidak mau menutup.
Hey, ada apa dengan wajah saya? Kenapa bentuknya jadi asimetris begini?
Mengapa yang kanan terasa lumpuh?

Ditengah rasa takut dan cemas terjadi apa-apa, saya ambil stetoskop. Saya cek sendiri tekanan darah saya dan hasilnya 110/80. Angka yang aman. Hasil ini sama persis dengan pemeriksaan di RS keesokan harinya.
Mengapa saya perlu mengecek tensi darah?
To be honest, ada anggota keluarga saya yang pernah terkena stroke sehingga membuat saya harus lebih peka terhadap perubahan-perubahan tidak biasa yang terjadi, meski saya masih muda. Karena tidak menafikan kenyataan ada juga anak muda yang bisa terkena stroke. Naudzubillah min dzalik.
Selain faktor tensi darah aman, gula darah saya juga aman (setelah beberapa waktu sebelumnya melakukan medical check-up), yang juga membuat saya merasa tenang adalah karena yang mengalami kelumpuhan ‘hanya’ separuh wajah, tidak termasuk anggota badan lainnya.
Sayangnya malam itu koneksi internet di rumah sedang bermasalah, jadi tidak bisa bertanya ke Syaikh Gugel atau Mufti Yahoo atas masalah ini. Esoknya, di RS Wava Husada, rasa penasaran itu akhirnya terjawab. Ternyata saya positif terkena Bell’s Palsy.

Bell’s Palsy

Penyakit ini diambil dari nama seorang dokter bernama Sir Charles Bell yang pertama kali mengidentifikasi kelainan ini.
Salah satu faktor yang dicurigai adalah karena adanya virus di saraf otak No.7 (saraf facialis) yang selama ini bertanggung jawab mengatur pergerakan muka, mengatur produksi air liur dan sebagainya. Selain virus, bisa jadi juga karena aliran darah ke otak kurang lancar. Sedangkan dokter syaraf yang menangani saya mengatakan bahwa penyebab terjadinya Bell’s Palsy –untuk kasus saya dan kasus secara umum- belum diketahui secara pasti!.
Karena gangguan pada syaraf nomer 7 ini, hingga akhirnya menimbulkan distorsi wajah yang khas. Percayalah, gangguan ini menurunkann kadar kecantikan sampai sekian persen (XD). Bagaimana tidak, pada saat itu mulut mencong, mata tidak bisa berkedip sebagian dan terus menerus mengeluarkan air mata. Maka tidak heran, selama 2 minggu pertama, ketika keluar rumah saya harus menggunakan masker. Faktor estetika yang berbicara, hehehe
Apa saya merasakan sakit?
Awal-awal iya, di bawah telinga terasa sakit nyeri, nyut-nyut rasanya. Kemudian setelah minum obat, nyeri itu hilang. Beberapa hari kemudian, rasa sakit itu muncul lagi, cukup lama, sampai seperti sakit migraine yang parah. Salah satu kakak sempat mengusulkan dilakukan pemeriksaan CT-Scan, tapi ternyata tidak perlu. Kata dokter, rasa sakit itu muncul karena mata kanan saya belum bisa menutup.
Selain keluhan sakit di belakang telinga, ketidakmampuan mata untuk menutup menyebabkan munculnya rasa nyeri, lebih tepatnya perih di mata jika muka terkena air, misalnya air wudhu.
Seperti halnya stroke yang memiliki golden period selama 3-6 jam, Bell’s Palsy juga demikian. Masa keemasan untuk Bell’s Palsy adalah 72 jam sejak terkena serangan. Artinya jika penanganan medis lambat dilakukan, melebihi golden period-nya, maka hasil klinisnya juga akan buruk. Alhamdulillah, kurang dari 72 jam saya sudah mendapatkan penanganan.

Medical Treatment
Untuk penyakit ini, saya diberi terapi kortikosteroid. Selain pengobatan dari dalam, saya juga harus menjalani fisioterapi 2 hari sekali. Tindakan terapi yang saya jalani adalah terapi infra merah, stimulasi listrik untuk mengaktifkan saraf penggerak otot, kemudian dilakukan massage di area wajah untuk memberikan stimulasi gerak serta exercise atau senam wajah.
Berkaitan dengan senam wajah ini, saya menangkap satu pesan tersembunyi. Adanya Bells Palsy, semacam menjadi perintah tersembunyi agar saya sering-sering membaca Al-Quran. Kenapa? Karena dengan membaca Al-Quran, secara otomatis, wajah akan melakukan gerakan-gerakan mengikuti makhorijul huruf nya. Gerakan-gerakan ini mirip dengan terapi yang diajarkan untuk melatih otot wajah yang lumpuh, misalnya gerakan memajukan mulut. Jadi ini semacam treatment yang two in one. Ya dapat pahala karena mengaji. Ya dapat kesembuhan karena senam wajah. In sha Allah

Pencegahan.
Ada hal-hal yang perlu diperhatikan agar orang yang masih dalam kondisi aman, tidak sampai terkena Bell’s Palsy. Bell’s Palsy ini merupakan penyakit yang memiliki hubungan erat dengan cuaca dingin. Beberapa hal yang harus dihindari, misalnya: jangan tidur dilantai dengan sebelah pipi menyentuh lantai, hindari berlama-lama di ruangan ber-AC, tidak menghadapkan wajah ke kipas angin yang menyala, termasuk jika berkendara sepeda motor sebaiknya gunakan masker dan helm teropong.
Hal-hal yang kelihatannya sepele ini, ternyata patut diperhatikan dengan seksama. Karena bagaimanapun, selalu memang lebih baik mencegah dari pada mengobati.

Baca Selengkapnya ....

MENUJU MUSEUM PABRIK GULA IDAMAN

Posted by Sofi 1.31.2013 0 comments
Mengintip House of Sampoerna
Awal tahun 2010, saya berkesempatan mengunjungi House of Sampoerna yang menjadi destinasi field trip dari salah satu Konferensi Internasional yang saya ikuti. Bersama peserta lainnya termasuk para bule dari beberapa negara, kami mengeksplorasi salah satu peninggalan keluarga Sampoerna yang bersejarah itu. Saat ini museum itu menjadi salah satu icon Kota Surabaya yang ‘wajib’ dikunjungi oleh para wisatawan baik domestik maupun mancanegara jika sedang berkunjung ke Kota Pahlawan.

Dari berbagai pajangan benda-benda artefak yang ada, didukung dengan desain interior dan spot light yang ditata dengan detail menyebabkan kami dan pengunjung lainnya betah untuk mengamati dan menelaah satu persatu, ikut larut dalam perjalanan panjang dari waktu ke waktu dari pabrik rokok yang kesohor itu. Selain itu pengunjung juga diberi suguhan istimewa yakni bisa melihat secara langsung para pekerja pabrik rokok yang sedang bekerja dengan metode tradisional dalam balutan busana kerja yang seragam.
Kesan bersih, mewah, elegan, cozy dan homey bercampur jadi satu. Nuansa tradisional pada berbagai benda kuno yang dipamerkan serta penataan interior modern berpadu dengan sangat apik.

Kentara sekali, pihak pengelola House of Sampoerna memperlakukan museum ini dengan penuh kesungguhan. Setiap detail diperhatikan. Karena memang barang-barang peninggalam itu istimewa. Seistimewa cerita panjang yang menyertainya sehingga pabrik rokok sampoerna menjadi pabrik rokok terbesar di Indonesia saat ini.

House of Sampoerna adalah salah satu contoh dari museum yang diperlakukan dengan sangat baik. Karena diperlakukan dengan istimewa, maka tidak heran jika apresiasi yang muncul atas keberadaannya juga bersifat istimewa. Tempat wisata sejarah ini bisa menjadi salah satu referensi yang bagus untuk mengembangkan Museum Pabrik Gula. Mengapa House of Sampoerna yang dijadikan benchmark? Hal ini karena antara pabrik rokok dan pabrik gula memiliki kedekatan dalam beberapa hal:
1. Kedua industri ini memproduksi item barang yang banyak dikonsumsi masyarakat. Antara gula dan rokok erat kaitannya. Kebanyakan para perokok suka minum kopi yang notabene untuk membuatnya perlu ketersediaan gula.
2. Kedua usaha ini sudah berdiri sejak lama. Sejak jaman penjajahan abad 19, usaha ini sudah bermunculan. Meski pabrik gula ada yang dijalankan oleh negara dan ada pabrik gula partikulir, sedangkan pabrik rokok hanya dijalankan oleh pihak swasta, tapi keduanya memiliki kisah perjalanan yang panjang dan sangat pantas untuk diabadikan.

Potensi Tersembunyi Museum Pabrik Gula
Keberadaan pabrik gula sampai saat ini terbilang lekat dan dekat dengan kehidupan masyarakat. Eksistensinya membuat kehidupan masyarakat terasa ‘manis’, dalam makna konotatif dan denotatif.
Tetapi, apakah semua masyarakat paham dengan pabrik tebu itu sendiri. Bagaimana sejarah pabrik gula itu. Siapa yang mendirikan pertama kali? Mengapa ada lori? Apa gunanya? Bagaimana cara pengolahan dari bahan baku tebu menjadi gula dari masa ke masa?
Berbagai pertanyaan ini membutuhkan media agar bisa terjawab secara komprehensif. Media yang dibutuhkan itu bernama Museum Pabrik Gula.
Di tempat wisata yang termasuk dalam kategori tempat wisata buatan ini tersimpan dan tersaji berbagai barang peninggalan yang termasuk dalam warisan budaya (cultural heritage). Berbagai barang peninggalan yang berhubungan dengan produksi gula, keberadaannya seperti seorang ‘pendongeng’ yang menceritakan kepingan mozaik dari suatu objek secara sambung menyambung. Sehingga jika penasaran dengan cerita perjalanan dari sebuah pabrik gula, pergilah ke museum. Disana akan ditemukan jawabannya.

Pabrik gula yang selama ini begitu dekat dengan kehidupan masyarakat, dalam perjalanan produksinya menyimpan banyak kisah menarik. Hal ini karena pabrik gula sendiri di Indonesia sudah mulai bermunculan pada abad ke 18 ketika program Cultuurstelsel diberlakukan. Cerita berdirinya pabrik gula mulai dari jaman baheula sampai sekarang menjadi faktor utama yang mampu mengundang banyak orang untuk berkunjung.

Dengan adanya Museum Pabrik Gula, banyak masyarakat yang akan terangkat kondisi ekonominya baik secara langsung atau karena adanya multiplier effect yang muncul. Misalnya, karena banyaknya wisatawan yang berkunjung, lambat laun akan menumbuhkan sentra-sentra industri kecil yang memproduksi aneka makanan dan pernak-pernik khas daerah.

Selain itu, konsep Museum Pabrik Gula yang digabungkan dengan pagelaran kesenian daerah seperti wayang kulit, akan bisa menumbuhkan kesadaran dan kecintaan terhadap ragam budaya. Berkaitan dengan hubungan antara wayang kulit dan pabrik gula, saya mengambil contoh PG Kebonagung Malang. Setiap kali menyambut musim giling tiba, PG Kebonangung ini mengadakan pagelaran wayang kulit. Perpaduan denyut kota modern dengan pagelaran wayang yang tradisional mampu menghadirkan harmoni yang indah, sebuah pembelajaran tentang kekayaan budaya kepada masyarakat. Acara ini selalau sukses mengundang masyarakat untuk berdatangan.

Maskapai Mandala Airlines merilis bahwa pada 2013 ini diprediksi destinasi lokal akan menjadi favorit para traveler. Ini karena ada kecenderungan para wisatawan ingin mengeksplorasi tempat wisata yang terlihat unik, otentik serta memiliki nilai historis yang tinggi. Yang menarik lagi bahwa profil wisatawan yang suka mengunjungi situs sejarah dicirikan sebagai sosok yang berpendidikan tinggi dengan pendapatan yang juga tinggi serta mau mengeluarkan uang dan belanja lebih banyak dibanding wisatawan lainnya. Ini adalah hasil riset yang dilakukan oleh Travel Industry Association and Smithsonian Magazine pada 2003. Dengan hasil penelitian ini semakin menguatkan pandangan bahwa keberadaan Museum Pabrik Gula nantinya akan sangat menguntungkan dari aspek ekonomi, sosial dan budaya.
Pertanyaan yang kemudian muncul adalah bagaimana caranya agar keberadaan museum pabrik gula bisa memberikan manfaat secara optimal baik kepada pengelola pabrik gula sendiri dan juga masyarakat luas?

Akulturasi Konsep Marketing 3 Generasi
Ibarat seorang chef yang diminta meracik bahan makanan menjadi hidangan yang lezat, maka dalam hal inipun saya melakukan hal yang sama. Untuk bisa membuat formula strategi pemasaran yang bisa memberikan sumbangsih terhadap keberhasilan promosi dari Museum Pabrik Gula, saya menggunakan bahan-bahan yang sudah tersedia dengan pengembangan yang disesuaikan dengan kondisi dan situasi yang ada. Dalam hal ini saya menggabungkan beberapa ajaran dari konsep marketing beda generasi, yakni marketing 1.0, marketing 2.0 dan marketing 3.0.

Marketing 1.0
Dalam perspektif marketing 1.0, yang menjadi fokus perhatian ada pada Product-Centric Marketing. Disini produk menjadi ‘raja’. Karena yang menjadi perhatian utama adalah produknya, maka Museum Pabrik Gula harus ditampilkan sebagai sebuah produk yang baik, valuable, dan layak untuk dijual. Untuk memenuhi standar ini, mau tidak mau Museum Pabrik Gula harus didesain dan dibangun dengan standar kualitas yang tinggi.

Kondisi fisik, desain arsitektur bangunan harus benar-benar diperhatikan. Keberadaan Museum Pabrik Gula tidak boleh dibiarkan apa adanya. Harus ada sentuhan disana-sini agar tampilannya mampu memikat para wisatawan untuk berkunjung. Aspek interior museum tidak boleh diremehkan. Pengaturan pencahayaan, konsep narasi di setiap benda bersejarah serta tata letak dari barang-barang bersejarah harus benar-benar diperhitungkan. Keberhasilan menata sisi eksterior dan interior museum menjadi salah satu faktor kunci pengunjung datang berduyun-duyun dan menghabiskan waktu yang lama tanpa terasa.

Pencitraan terhadap Museum Pabrik Gula harus dilakukan. Ini dalam rangka membentuk brand yang baik dari museum itu sendiri. Karena bagaimanapun, a brand exists in the mind of the consumer.
Idealnya, lokasi Museum Pabrik Gula harus berdekatan dengan pabriknya agar hubungan antara pengunjung dengan ‘kehidupan’ di pabrik semakin dekat. Masalahnya, selama ini lingkungan pabrik tebu diidentikkan dengan kawasan yang bising oleh antrian truk-truk pengakut tebu, macet yang tidak dapat dihindari, suhu udara panas ditambah sumbangan polusi udara dari cerobong asap pabrik tebu semakin menambah kesan ‘nggak banget kalau harus berkunjung kesana’. Penilaian ini saya dapatkan karena sekitar 10 tahun lamanya, saya setiap hari harus melewati kawasan Pabrik Gula Kebonagung yang berada di tengah kota. Jika harus memilih, dengan kondisi lingkungan pabrik yang seperti itu, maka saya memilih tidak mengunjunginya.
Ini menjadi PR bagi pihak pabrik gula untuk menata kembali dengan penataan lebih baik jika ingin ingin mendirikan Museum Pabrik Gula sebagai destinasi wisata alternatif bagi masyarakat luas.

Marketing 2.0
Nafas dari konsep marketing era 2.0 adalah customer-oriented marketing. Jika di era Marketing 1.0, produk yang dijadikan sebagai raja, maka di era 2.0 konsumenlah yang mendapat porsi perhatian terbesar. Salah satu ciri dari konsep Marketing era 2.0 adalah penggunaan teknologi tingkat tinggi (high-tech) untuk berkomunikasi dengan para customernya.

Museum Louvre yang ada di Prancis semakin dikenal oleh masyarakat luas setelah novel Da Vinci Code karya Dan Brown diluncurkan novelnya dan kemudian dibuat versi filmnya. Rasa penasaran orang untuk mengunjungi situs sejarah yang menjadi setting lokasi dari novel itu meningkat tajam.

Ubud Bali memang terkenal sejak dulu. Tapi popularitasnya semakin menanjak ketika artis peraih piala Oscar Julia Robert bermain di film Eat,Pray and Love yang juga mengambil daerah Ubud sebagai salah satu lokasi syutingnya. Film adalah salah satu menifestasi dari Digital Campaign yang memiliki pengaruh dahsyat dalam memasarkan suatu produk. Dengan jalan cerita yang bagus, para penonton tidak sadar bahwa mereka sedang diajak untuk melihat-lihat lokasi dimana jalan cerita yang ada di novel atau film terjadi. Tanpa disadari muncul kesan bagus dan akhirnya menerbitkan keinginan untuk mengunjungi tempat tersebut.

Kecanggihan fasilitas teknologi harus dimanfaatkan secara maksimal oleh pengelola Museum Pabrik Gula. Pihak pengelola bisa mengundang pekerja kreatif untuk membuat cerita fiksi atau non fiksi dengan setting utama museum gula. Yang patut diingat, karya cerita adalah salah satu alat cuci otak yang canggih. Mengena ke benak penikmat tanpa mereka menyadarinya.
Keberadaan jejaring sosial di dunia maya yang sudah akrab di kehidupan masyarakat juga harus dimanfaatkan dengan sangat baik. Berpromosi melalui fasilitas ini tergolong low cost, high impact.

Marketing 3.0
Di era Marketing 3.0 values-driven marketing adalah model yang diusung. Aktifitas bisnis tidak hanya didasarkan profit semata, tetapi ada nilai-nilai yang diperjuangkan dan ditransformasikan ke masyarakat sekitar. Semangat yang diusung dalam Marketing 3.0 ini adalah adanya upaya untuk terlibat dalam gerakan menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Keberadaan pabrik gula di beberapa daerah, misalnya PG Kebonangung dipandang sebagai salah satu pemicu terjadinya polusi udara sekitar. Kondisi ini tentu saja sedikit banyak merugikan masyarakat yang berdiam di sekitar lokasi pabrik.
Salah satu teman saya yang tinggalnya hanya beberapa meter dari lokasi pabrik PG Kebonagung pernah mengeluhkan polusi udara dari pabrik itu yang membawa dampak buruk, misalnya pakaian yang dijemur menjadi kotor dan semakin buruk tampilannya. Adanya kejadian ini secara otomatis menambah penilaian negatif terhadap keberadaan pabrik gula tersebut. Bagaimana pabrik gula bisa dijadikan destinasi wisata andalan jika aktifitasnya mengganggu lingkungan?
Ini yang harus diperhatikan. Pihak pengelola pabrik harus mengambil tindakan tepat untuk memperkecil dampak buruk terhadap lingkungan. Berbagai upaya penyelamatan dan perlindungan terhadap lingkungan sekitar yang dilakukan pihak pabrik gula pakan mendatangkan apresiasi positif dari masyarakat. Kebijakan penyelamatan terhadap lingkungan bisa menjadi sarana promosi gratis terhadap Museum Pabrik Gula itu sendiri.

Jika produk sudah dikemas dengan sangat baik, aspek lingkungan diperhatikan, selanjutnya akan memunculkan strategi promosi mouth to mouth dengan sendirinya. Karena bagaimanapun produk yang terkemas dengan baik memang pada akhirya akan memasarkan dirinya sendiri.

Baca Selengkapnya ....

Potret Pergantian Tahun Ini

Posted by Sofi 12.31.2012 0 comments
Meninggalnya salah satu tetangga di sore menjelang pergantian tahun Masehi tadi membawa ‘keuntungan’ tersendiri.
Lho? Lho?
Kok gitu sih?
Kejam banget nih pernyataannya!
Hehehe.
Mungkin ada reaksi seperti itu dari teman-teman baca kalimat pembuka tulisan ini. Tapi memang benar, menjelang Maghrib, 31 Desember 2012, salah satu tetangga saya kembali ke haribaan-Nya.

Innalillahi wa inna ilaihi roojiun. Allahummaghfirlaha warkhamha wa’fuanha.

Lha terus, bukannya berduka ada tetangga meninggal, kok malah beryukur? Jadi begini, yang pengen saya bicarakan bukan pada kabar dukanya. Saya bisa merasakan kesedihan keluarga yang ditinggalkan, karena saya juga pernah mengalami hal yang sama.

Yang ingin saya angkat adalah adanya hikmah yang dihadirkan atas skenario Allah memanggil tetangga saya tepat menjelang pergantian tahun.

Kampung saya yang menjadi bagian dari kehidupan saya sejak beberapa tahun lalu bernama Jalan Kauman. Orang-orang sering mem-plesetkan nama itu menjadi: Kampungnya Orang Beriman. Sebuah plesetan kata yang mengandung doa. Semoga bisa jadi nyata adanya. Aamiin.
Tapi sayangnya, arti nama jalan kampung yang elok masih belum bisa menggambarkan keelokan perangai para penghuninya. Ada satu ‘tradisi’ yang sering dilakukan oleh beberapa orang penduduk kampung di saat pergantian tahun.
Berkumpul di Pos Kamling dan membuat sebuah majlis untuk begadang semalaman. Apa yang dilakukan?
Pesta Tengah Malam.
Biasanya selepas matahari tenggelam, berbagai persiapan telah dilakukan. Beberapa perlengkapan sound system di pasang untuk memfasilitasi orang-orang yang ingin nyanyi secara live atau cukup mendengarkan suara penyanyi dari kaset yang sudah disediakan.

Pos Kamling yang ada di ujung jalan itu seolah-olah berubah fungsi menjadi ruang karaoke terbuka semalam suntuk. Suaranya yang di setting keras terdengar hampir di seantero kampung unyil ini. Tentu saja, ada hidangan khas untuk menemani aksi itu: Beberapa botol miras.

Begitu menjelang detik-detik pergantian tahun, bukan terompet yang ditiup, tapi parade suara dari knalpot sepeda yang di geber dengan suaranya yang wow! Beramai-ramai pula. Sungguh! Its voice make our ears Cumpleng! Do you know Cumpleng? :D

Bayangkan, tengah malam, saatnya bagi banyak orang untuk beristirahat dengan tenang, tapi justru harus terganggu dengan suara-suara itu. Maka tidak heran jika setiap acara pergantian tahun yang diisi dengan aksi seperti itu, menghadirkan banyak keluhan, sumpah serapah dari beberapa warga lainnya yang terucap baik terang-terangan maupun dengan diam-diam.
Itu terjadi di pergantian tahun di tahun-tahun sebelumnya.

Malam ini, tidak ada aksi seperti itu. Tidak ada pesta. Tidak ada suara knalpot sepeda layaknya di sirkuit. Tidak ada suara orang nyanyi-nyanyi tidak jelas di kesunyian malam.

Karena suasana duka lebih terasa daripada suasana menyambut pergantian tahun baru. Beberapa warga kampung sedang melek’an (begadang) di rumah duka karena jenazah baru akan dikebumikan keesokan harinya.
Situasi ini membuat warga lainnya bisa beristirahat dengan tenang. Alhamdulillah...

Ini cerita versi saya. How 'bout u? ^_^

Baca Selengkapnya ....

Hello...^_^

Posted by Sofi 1.27.2012 7 comments

Terima kasih ya sudah berkenan mampir di 'rumah' saya

Blog ini berisi beberapa uneg-uneg saya yang tidak tersampaikan secara lisan. Meski dengan konsep tema tulisan yang 'mix and match' , tapi semoga rasanya tetap segar untuk dinikmati kaya minum es campur di siang hari.

Ada beberapa tulisan yang akan masuk dalam label 'Ode From My Family' yang berisi kepingan kenangan bersama keluarga: (Alm) bapak, ibu dan saudara2 saya. Apa-apa yang terjadi selama bersama mereka sampai saat ini, saya anggap sebagai syair kehidupan yang indah untuk dituliskan.

Apapun yang dibaca, semoga ada manfaatnya ya.

Jangan lupa untuk meninggalkan jejaknya. Bisa di kolom komentar (Berupa kritik&saran) atau cukup click! kotak penilaian yang ada di bawah artikel. Oke?
Tujuannya biar saya bisa mengetahui siapa pengunjungnya dan siapa tahu ntar ada hadiah doorprize buat para pengunjung yang beruntung, hehe.

Finally, happy reading...^_^


p.s: Gambar saya dapat dr carolineazouz.wordpress.com/

Baca Selengkapnya ....

Beras RASKIN Yang Dinanti

Posted by Sofi 1.20.2012 0 comments
Sebagai bagian dari ritual pengantar tidur, tadi malam saya mencomot salah satu koran yang sudah ada sejak beberapa hari yang lalu tapi belum terbaca. Baru mengamati beberapa headline, eh tanpa sengaja mata saya menangkap berita yang cukup menarik. Judulnya: Raskin Distop, Rakyat Miskin Menjerit (Jawa Pos, 25 Nov ’11). Di koran itu diberitakan kalau distribusi beras untuk rakyat miskin (Raskin) di Jawa Timur dihentikan sejak awal bulan lalu. Hal ini akibat dari adanya pelarangan penggunaan beras impor dipakai untuk jatah beras bagi rakyat miskin. Tidak sampai selesai membaca, tiba-tiba memori saya meloncat ke beberapa hari yang lalu.
***
Sore itu -sebut saja- Mbak Y, salah satu tetangga saya datang ke rumah Mbak X, yang menjadi koordinator arisan PKK kampung. Maksud kedatangannya adalah ingin meminjam beras arisan PKK, karena persediaan beras yang akan dimasak esok harinya sudah tidak ada. Tidak banyak yang beliau pinjam, hanya 4 kg saja, karena memang sejumlah itu beras yang tersedia. Biasanya mbak Y mendapat jatah raskin (di kampung populer dengan sebutan ’Beras Sembako’), tapi entah kenapa sudah beberapa hari (sesuai jadwal rutin beras sembako datang), beras bantuan pemerintah itu belum datang juga. Padahal mbak Y dan beberapa warga yang berhak menerima sudah membayarnya. Dari kantor desa juga tidak ada keterangan kapan beras sembako itu akan datang.
Saya jadi terharu. Terpaksa dan nekat. Yah, mungkin memang itu yang bisa beliau lakukan. Mengingat beras arisan PKK sebenarnya bukan untuk dipinjamkan, tapi itu menjadi jatah bagi peserta yang mendapat arisan. Tentu saja, mbak Y meminjam dengan perasaan malu dan mungkin juga nelongso.
Pekerjaannya sebagai buruh di sebuah pabrik rokok skala kecil menjadikan beliau tidak bisa menerima gaji yang cukup untuk menghidupi 3 anak dan suaminya. Suaminya? Ya, sejak beberapa tahun lalu, suaminya terkena stroke dan menyebabkan harus keluar dari tempat kerja dan sampai sekarang masih jobless. Dengan pemasukan yang pas-pasan dan tidak menentu dari statusnya sebagai buruh pabrik kecil, menjadikan kedatangan beras sembako sangatlah dinantikan. Bagaimana tidak, jika di toko untuk beras kualitas standar harus mengeluarkan sekitar 7.000 per kilonya, maka untuk beras sembako cukup 1.600 per kilo nya. Bedanya jauh bukan?.
Penampakan beras sembako cocok sekali dengan ungkapan yang sering dilontarkan orang Jawa: ’Ono rego ono rupo’ Ada harga ada kualitas. Jangan bayangkan bentuk beras sembako seperti beras bengawan dan sebangsanya. Beras sembako (seringnya) berwarna kusam, tidak utuh bentuknya dan masih banyak sisa kulit padinya. Meski kualitasnya tidak bagus, tapi bagi mbak Y dkk, beras sembako tetaplah sebuah anugerah yang ditunggu-tunggu.
***
Dalam keterangan terpisah, Kepala Bulog Divre Malang menyatakan bahwa penghentian penyaluran raskin ini dilakukan sampai batas waktu yang belum ditentukan, dan ini dilakukan sebagai upaya untuk menghormati keputusan gubernur yang menolak beras impor digunakan untuk raskin. Mencermati (secara parsial) akan keputusan gubernur tentang penghentian beras impor sepertinya benar, tapi sayangnya gubernur tidak menyiapkan langkah-langkah strategis agar penyaluran beras untuk rakyat miskin tetap berjalan. Padahal, masalah kebutuhan makan, tidak mengenal kata tunda terlalu lama. Jika perut sudah terasa lapar, harus segera makan. Misalkan hari ini perut sedang keroncongan, kemudian dijanjikan satu minggu lagi baru bisa diisi, bisakah perut sabar menanti? Ah, saya tidak dapat membayangkan betapa tersiksanya menjadi orang yang kelaparan karena tidak ada beras yang bisa dimakan.
Pikiran saya jadi menerawang kemana-mana. Ketika mbak Y dan ribuan orang miskin lainnya sedang kebingungan memikirkan beras darimana yang akan dimasak esok harinya (karena jatah beras murah dari pemerintah telah dihentikan), di bagian bumi Indonesia lainnya, tepatnya di istana Cipanas, gubernur dan sang istri sedang menghadiri sebuah acara mewah yakni pesta pernikahan putra presiden. Meski saya tidak jadi datang di event bersejarah nan megah itu, tapi saya bisa membayangkan disana pasti terhidang jamuan makan yang istimewa, yang diperuntukkan untuk dinikmati para tamu undangan, termasuk gubernur dan istrinya.
Kondisi yang sangat kontras, layaknya bumi dan langit. Disaat rakyatnya terancam kelaparan berjamaah, gubernur justru sedang menikmati jamuan makan yang (pastinya) lezat itu. Kondisi ini semakin menguatkan pandangan bahwa banyak kebijakan pemerintah yang tidak menyatu dengan kebutuhan rakyatnya karena ikatan hati (ta’liful qulub) antara pemerintah (contoh gubernur) dengan rakyatnya tidak tersambung. Bagaimana bisa tersambung jika dunia yang dirasakan gubernur dan rakyatnya adalah dunia yang berbeda. Bahkan yang sering terjadi, pemerintah lebih sering melihat permasalahan yang ada di masyarakat dari puncak menara, tidak langsung menginjak bumi, berbaur dengan masyarakatnya.
Akhirnya saya sampai pada sebuah kesimpulan: ternyata sulit ya mengemban tugas sebagai aparat pemerintah, apapun posisinya. Tanggung jawabnya gedhe. Salah dalam mengambil kebijakan, bisa mengakibatkan ribuan orang kelaparan, dan itu sudah pasti dosa besar yang harus dipikul oleh pemerintah karena berbuat dholim kepada rakyatnya.
Kadang saya sering membayangkan, alangkah enaknya jika memiliki pemimpin yang seperti Umar bin Abdul Aziz, yang terkenal dengan kata-katanya: Jika masalah kesulitan hidup, aku orang yang pertama merasakannya. Jika menyangkut kesejahteraan, aku orang terakhir yang menikmatinya. Atau bisa juga ’Umar bin Abdul Aziz abad 21’ ini, yakni Mahmud Ahmadinejad, yang kehidupannya sangatlah sederhana sekali sebagai seorang kepala negara dibanding para pemimpin negara lainnya. Sampai saat ini, itu hanyalah bayangan, bukan realita. Entah kapan, angan-angan itu menjadi nyata.
***
Sampai tulisan ini selesai dibuat, saya yakin mbak Y masih berharap bahwa beras raskin akan turun. Beliau tidak tahu bahwa gubernur Jatim telah mengeluarkan SK tentang penghentian beras raskin itu. Sepertinya ini adalah berita penting untuk mbak Y dan beberapa tetangga saya lainnya yang tercatat sebagai penerima beras sembako, tapi rasa-rasanya saya tidak tega untuk menyampaikan hal ini kepada mereka.

p.s: Pernah di upload di fb pada December 3,2011

Baca Selengkapnya ....

Ingin Masuk Neraka pun Butuh Strategi!

Posted by Sofi 0 comments
Secara tak sengaja, beberapa hari yang lalu saya mendengar percakapan ibu-ibu kampung. Biasaa…Forum warga. Sekedar untuk tidak menyebutnya sebagai ajang ngrumpi. Bener, saya cuma mendengar saja, lebih tepatnya menguping, tak ikut-ikutan sumbang suara…:)

Inilah cuplikannya:

Ibu A: "Nanti kalo si Rio masuk SMA, adiknya Rani masuk SMP. Duit lagi, bareng-bareng" (dengan nada menggerutu).

Ibu B: "Lho itu masih lumayan. Cucuku 3-3nya malah. Salsa kelas 6 SD, masnya Andi mau masuk SMA. Budi pas lulus SMA, dan ibunya juga harus menyiapkan uang untuk daftar jadi p*lisi. Ga sedikit uang yang harus disiapkan biar bisa lolos".

Ibu A: "Memange berapa?"

Ibu B: "Looh nggite. Banyak yo. Anaknya pak (sensor) yang baru masuk p*lisi, jual sawah itu"…

Saya jadi mikir, inikah yang dimaksud dengan pesen kavling di neraka jauh-jauh hari?

Beberapa waktu lalu, kakak saya juga cerita tentang teman kantornya yang bilang bahwa dia (teman kantor) tidak mampu membiayai uang pelicin (yang jumlahnya besar) yang harus disetor waktu anaknya mengikuti test pegawai disebuah instansi pemerintah. Tidak jadi menyuap bukan karena prinsip bahwa menyuap tidak boleh, tapi karena nominalnya yang tidak terjangkau. Apalah daya…

Sadar atau tidak, suap menyuap telah menghiasi berbagai aktifitas di masyarakat. Suap-menyuap juga yang menjadi salah satu factor lingkaran setan (vicious circle) yang ada di negeri ini tidak mudah terputus. Tidak tau mana ujung mana pangkal.

Suap-Menyuap telah bermetamorfosa menjadi beraneka istilah. Ada yang menyebutnya sebagai uang pelicin, feedback, uang rokok, uang terima kasih, kickback, syukuran, dan bahkan ada yang mengemasnya menjadi zakat kampanye. Zakat yang diberikan sewaktu ada kampanye pemilihan kepala daerah atau calon anggota legislatif, dan ini pernah terjadi. Hasilnya? Banyak yang memberikan dukungan.

Kalau berita ini benar, maka alangkah cerdiknya cara orang itu masuk neraka. Zakat disulap jadi suap. Dikira Tuhan akan begitu mudah untuk dikibuli. Kalau memang acara bagi-bagi zakat murni untuk ibadah, seharusnya pelaksanaannya tidak berdekatan dengan acara kampanye, biar niatnya tidak terkontaminasi. Atau kalau memang bener-bener segera ingin mengeluarkan zakat, lebih baik mencari penerima zakat yang berada diluar daerah coblosan.

Saya salut untuk mereka yang bener-bener menolak untuk tidak melakukan suap dalam bentuk apapun, berapapun nominalnya. Maka saya jadi terharu ketika mendengar cerita ada seorang suami yang istrinya ditawari untuk diangkat menjadi CPNS asalkan membayar beberapa juta (yang sebenarnya bisa dengan mudah disediakan oleh suaminya), dan sang suami pun berkata: ‘Jangankan harus bayar puluhan juta dik, disuruh bayar 1000 rupiah pun aku tak mau!!’.

Itulah prinsip yang harus dipertahankan, karena bagaimana pun, Yang Disuap dan Yang Menyuap Sama-Sama Masuk Neraka!

*1. Gambar saya ambil dari: http://theorangestrawberry.blogspot.com/

2. Pernah di upload di fb pada July 6, 2011


Baca Selengkapnya ....

Antara Wanita Karir dan Ibu Rumah Tangga

Posted by Sofi 3 comments

Perlu ide bisnis?. Bukalah bisnis penitipan bayi (day care) dan penyedia pengasuh anak (baby sitter). Inilah peluang usaha yang consumer demand nya akan terus mengalami kenaikan. Kok bisa?. Bisa dong, karena pasar menghendaki demikian. Kecuali, terjadi perubahan sudut pandang tentang wanita karir dan ibu rumah tangga.

Di tahun 1980an, usaha ini masih bisa dibilang sangat jarang, tapi sekarang jumlahnya semakin banyak. Mengapa? Karena semakin banyaknya perempuan yang memilih menjadi wanita karir.

Adanya propaganda besar-besaran tentang kebebasan perempuan, persamaan jender, aktualisasi diri, secara langsung atau tidak telah menyebabkan banyak perempuan memilih bekerja di luar rumah dengan segala konsekuensinya. Salah satunya dengan menyerahkan pengasuhan anak yang masih kecil kepada orang lain, dengan alasan profesionalitas. Dengan membayar sejumlah uang, mereka akan ‘terbebas’ dari mengasuh anak (biasanya) mulai pagi sampai sore.

Adakah yang salah dengan memilih menjadi wanita karir?. Tidak, selama para wanita karir yang sudah memiliki anak, tidak mengesampingkan peran sebagai seorang ibu. Para ibu yang bekerja (working mom) bisa menganalisis secara cermat antara kepentingan kerja dan kesempatan mendidik buah hati. Anak-anak, apalagi yang masih kecil, membutuhkan kehadiran ibunya secara penuh disisinya sepanjang waktu. Nah kalau selama sekian jam dalam setiap hari si anak berada dalam pengawasan orang lain, yang tidak diketahui secara jelas wawasan dan idealismenya, bukankah ini akan berakibat fatal bagi pembentukan karakter anak.

Banyak pemandangan aneh tapi dianggap lazim, yakni wanita karir yang giat bekerja untuk membiayai orang lain mengasuh anak mereka. Kalau sudah begini, siapa mempekerjakan siapa. Apakah sang majikan yang menggaji pengasuh untuk menjaga anaknya, atau justru para pengasuh anak yang ‘mempekerjakan’ tuannya. Dalam bahasa kasarnya ‘Ibu bekerja saja, biar anak ibu (bermain) bersama saya’. Tidak jarang, karena kedekatan anak-pengasuh mengalahkan kedekatan anak-ibu, yang terjadi banyak anak majikan menjadi anak pembantu. Harga yang sangat mahal yang harus dibayar untuk sebuah ambisi pengejaran karir.

Banyak ahli yang menganjurkan para kaum ibu untuk memilih menjadi ibu rumah tangga, jika bukan karena alasan keterpaksaan yang mengharuskan mereka bekerja diluar rumah, misalnya karena menjadi single parent.

Mari kita menilai sosok ibu rumah tangga dari perspektif yang indah. Ibu rumah tangga adalah seorang ‘home worker’ yang posisinya tidak lebih rendah dari ‘office worker’. Bedanya, office worker dapat gaji bulanan, tapi anak dititipkan. Sedangkan home worker, tidak dapat gaji bulanan, tetapi mereka akan menuai hasil dari investasi waktu dan tenaga, yakni ketika anak-anak mereka telah menjadi orang sukses sesuai dengan yang diharapkan. Menjadi home worker adalah panggilan jiwa dan tidak perlu minder untuk mengatakan: I’m a professional home worker.

Menjadi ibu rumah tangga bisa bermakna tersedianya waktu yang banyak untuk mendidik dan membesarkan anak-anaknya. Itulah mengapa, para istri tidak wajib bekerja, selama suami masih bisa menafkahinya.

Menjadi ibu rumah tangga bukanlah pekerjaan remeh dan ringan. Dibutuhkan skill dan pengetahuan yang luas untuk bisa mendidik anak-anaknya agar menjadi generasi masa depan yang membanggakan. Jika menjadi wanita karir hanya dilatarbelakangi oleh alasan yang tidak begitu penting, misalnya karena prestige, maka beralih menjadi ibu rumah tangga menjadi prioritas utama. Karena bagaimanapun, surga terletak dibawah telapak kaki ibu, bukan wanita karir.

Di penghujung bulan Februari 2011.


Baca Selengkapnya ....

Kisah Kotho'an Welut Yang Gagal

Posted by Sofi 1.19.2012 0 comments
Ini adalah sebuah kisah nyata.

Ditempatku, perkampungan kecil disebuah desa, setiap hari tertentu ada pertemuan rutin antar warga. Tempatnya berganti-ganti sesuai dengan gilirannya. Nah Minggu kemarin, yang mendapat jadwal tempat pertemuan adalah rumahnya –sebut saja- pak X. Jauh-jauh hari sebelumnya, Pak X ini sudah woro-woro ke para tetangga, kalo ditempatnya nanti akan dijamu, salah satunya dengan menu spesial: Kotho’an Welut.

Do U know Kotho’an Welut?

Kotho’an Welut ini terbuat dari bahan yakni welut (Belut) yang di iris kecil2, dimasak dengan kuah santan yang kental plus rasanya –biasanya- pedass..dass..dassss dikasih taburan daun kemangi. Pokoknya mantap deh. Kotho’an welut ini merupakan salah satu jenis makanan spesial ditempat kami.

Singkat cerita, kabar tentang rencana ini sudah menyebar ke beberapa tetangga, mulai pak RT, sampe bapak2 yang sedang bekerja disawah pun mengetahuinya. Saatnya hari H tiba, Pak X udah pesen ke seorang penjual belut dengan kuantitas yang lumayan banyak, 5 kg. Sayangnya, sang istri yang bekerja di sebuah perusahaan, enggan cuti untuk mempersiapkan masakan ini dan lebih memilih masuk kerja. Padahal masakan itu harus dihidangkan sore harinya. Yah mau gimana lagi, karena sang koki ga mau mengolah, sedangkan belut pesenan udah datang dan sdh dikasih abu lagi, siap dimasak, akhirnya biar ga rugi, belut itu dijual lagi ke para tetangga.

Pas pertemuan, bukan menu kotho’an Welut yang muncul, tapi camilan ringan. Padahal banyak orang sudah membayangkan akan menikmati makanan enak nan lezat sebagaimana yang di gembar-gemborkan sang tuan rumah. Ada yang iseng tanya:

Lho Pak, kotho’an welut e endi? (Lho Pak, Kotho’an Belutnya mana?)”

Welut e tasek ocol (Belutnya masih lepas,belum ketangkap). Jawab pak X dengan raut muka malu. Selanjutnya bisa ditebak, kegagalan menghidangkan menu ini menjadi topic di majlis ngrumpi para warga.

***

Apa maksud dari ditulisnya cerita ini?. Meski mengambil cerita tentang kotho’an welut yang gagal, sebenarnya bidikan utama saya bukan itu. Inti yang ingin saya sampaikan adalah:

Jangan gembar-gembor tentang sebuah rencana atau sesuatu yang belum pasti terjadi.

Ketika kita memiliki sebuah planning ataupun akan memperoleh rizki yang belum nyampe ke tangan, lebih baik disimpan sendiri. Biarlah hanya Allah dan kita yang tau. Karena ketika kita sudah woro-woro kesana kemari, ternyata apa yang menjadi kenyataan tidak sesuai dengan yang disebarkan, resiko minimal yang ditanggung adalah malu. Dan biasanya sudah gagal, dicecar pertanyaan pula. Saya tidak menafikan bahwa sebagai manusia, kita perlu teman untuk sharing. Maka yang bisa saya sarankan adalah, pilihlah orang-orang terpercaya untuk mendengarkan cerita anda.

Pernah, suatu hari saya mendapat pesanan barang yang lumayan banyak, untuk dikirim ke pulau seberang. Wow.. masa depan bisnis cerah terpampang di depan mata. Berita tentang pemesanan ini tentu membuat saya gembira sekali, karena menghitung berapa keuntungan yang akan saya peroleh jika barang sudah berhasil dikirim. Kabar baik ini saya kabarkan ke keluarga dan beberapa tetangga. Berbagai persiapan pun dilakukan, dan dalam bayangan saya, pesanan ini akan lancar, mulus dan tanpa hambatan. Ternyata......

Saya tertipu. Pesanan itu adalah pesanan fiktif.

Astaghfirullahal adzim...

Allah sedang menempa saya untuk menjadi pribadi yang tangguh. Mengajarkan tentang cara bersikap lapang dada atas setiap peristiwa yang tidak meng-enak-kan hati. Allah sedang mengingatkan saya untuk tidak sombong, karena dalam proses mengabarkan berita baik ini ke orang lain, siapa yang bisa menjamin bahwa saat itu tidak ada terselip rasa bangga terhadap diri sendiri di dalam hati?

Jika kita memiliki rencana, tentu kita membutuhkan dukungan dari orang-orang disekeliling kita. Dukungan lewat doa yang paling kita butuhkan. Maka alangkah baiknya, ketika kita punya hajat dan kemudian ada orang lain yang bertanya secara spesifik tentang rencana itu, cukuplah dijawab,”Mohon doanya saja, saya belum bisa mengabarkan masalah ini”. Kalo yang diminta doa orangnya tulus, mereka akan mendoakan rencana kita dengan tulus pula, tanpa harus menuntut keterangan secara jelas dan gamblang. Bolehlah, jika suatu saat kita memilih untuk tidak bersikap terbuka kepada orang lain, terutama menyangkut rencana kita kedepannya atau katakanlah impian kita. Ini adalah pendapat subyektif saya, bagaimana dengan anda?

* Pernah nongol di fb pada October 15, 2010
* Gambar di copy dr: benpintermasak.blogspot.com. Sebenarnya ga begitu pas antara gambar dan jenis masakan yang dimaksud, tapi sepertinya gambar ini yg paling bisa mewakili seperti apa 'kothoan welut' itu...^^


Baca Selengkapnya ....

Cara Bersyukur a la Miss Universe 2011

Posted by Sofi 1 comments
Mungkin, mahkota ratu kecantikan sejagat tidak akan pernah ada di kepala Laila Lopez jika syarat untuk dikatakan cantik itu adalah berkulit putih!

Ya, terpilihnya gadis Angola sebagai Miss Universe pada 2011 ini, semakin menguatkan pandangan bahwa kecantikan tidak dilihat dari apa warna kulitmu, tapi lebih pada kecantikan yang terpancar dari hati, cara berpikir, dan tingkah laku. Inilah yang kemudian terangkum dalam sebuah kata inner beauty.

Ketika salah satu dewan juri memberikan pertanyaan final kepada Laila, jika dia diberi kesempatan bisa mengubah karakter fisik, apa yang akan diubah?.
Saya, yang waktu itu juga menonton acara final Miss Universe 2011, dalam hati berkata, jika saya yang mendapat pertanyaan seperti itu, akan saya katakan bahwa warna kulitlah yang akan saya ubah, agar menjadi putih. Secara, warna kulit saya sebelas-duabelas dengan warna kulit ratu kecantikan itu.

Yang kemudian membuat saya tersentak adalah jawabannya: Thank God. I'm very satisfied with the way God created me and I wouldn't change a thing.
Keren!. Jawaban yang polos dan apa adanya. Seketika saya merasa malu, bagaimana bisa saya tidak memiliki rasa terima kasih kepada Sang Pencipta atas anugerah kulit eksotik ini, meski rasa tidak bersyukur itu hanya terucap dalam hati. Dalam hal ini, saya harus belajar dari Laila.

Poin penting:
Terlepas dari pandangan tentang 'tujuan terselubung' dari penyelenggaraan kontes ini, masih ada pelajaran berharga yang bisa kita dapatkan darinya.

p.s:
1. Tulisan ini pernah saya upload di fb pada 20 Oktober 2011

2. Gambar di ambil dari detikfoto.com


Baca Selengkapnya ....

Tema Jagongan Kali Ini Menarik

Posted by Sofi 1.16.2012 0 comments
Jagongan (bahasa jawa) adalah istilah untuk menyebut acara ngobrol bareng yang terkesan santai dengan topik bahasan yang ringan-ringan saja. Jagongan yang berkualitas adalah jagongan yang bisa memberikan manfaat bagi yang hadir.Beberapa hari yang lalu, untuk kesekian kalinya, saya dapat kesempatan untuk ikut njagong bersama beberapa orang anggota keluarga, sekaligus reuni kecil-kecilan. Dari sekian banyak bahan pembicaraan yang dilontarkan, ada satu hal yang menurut saya sangat menarik. Mimpi.

Di awali dari cerita salah satu saudara, bahwa malam sebelumnya beliau ini bermimpi melihat kedua orang tuanya, dimana salah satunya sudah meninggal (Allahummaghfirlahu) melakukan sholat berjamaah dan di imami oleh salah satu putranya. Entah apa arti dari mimpi ini, tapi semoga mimpi yang baik ini memiliki makna yang baik pula.

Kemudian, ada lagi peserta jagongan yang cerita:Ada salah satu tetangganya yang sudah meninggal (yang dulunya berprofesi sebagai seorang dukun) hadir dalam mimpi sang istri. Dalam mimpinya, si istri ini mendengar teriakan suaminya:

Lapaaaaarrr...hauss...lapaaarrr..hausss.... secara terus menerus.

Kami bertanya-tanya, apa makna mimpi itu?. Salah satu ustad yang turut hadir mengatakan:

Orang yang menjaga sholatnya, InsyaAllah tidak akan merasakan haus dan lapar di alam kuburnya.

Singkat saja penjelasannya, dan itu sudah cukup membuat kami terdiam dan merenung....

Baca Selengkapnya ....
Tutorial SEO dan Blog support Online Shop Tas Wanita - Original design by Bamz | Copyright of Unspoken Thought.